1
“BROTHEEERRRR…..!!!!
sepatu kets aku mana?? Kemarin kau pakai kan?? Kaus kaki juga mana??” teriak
diba pagi-pagi saat buru-buru akan berangkat kesekolah. Keributan seperti ini
memang jadi rutinitas dirumah sederhana ini.
“lah, kemarin aku
cuciin, terus jemur di genteng, emang belum kau angkat sis??” jawab zafran dari
dalam kamarnya.
Diba mendatangi
kamar zafran. “kau nyuci , trus kau gak ngangkatin?? Terus itu sepatu dibiarin
gitu aja di genteng??? Sadar minjam gak sih ha?? Pagi-pagi bikin kesel aja!!!”
rutuk diba lalu berlari kearah genteng belakang rumahnya, dan mendapati
sepatunya masih lembab karena malam tadi kan memang hujan.
Ia mendengus
kesal, masuk kerumah dalam keadaan dongkol.
“Bu, afan tuh
pagi-pagi bikin kesel, masa udah minjam sepatu diba trus pas udah dicuci gak
diangkatin?? Diba kan gak tau kalau afan nyuciin sepatunya. Malam tadi kan juga
hujan, sepatunya masih basah bu. Terpaksa hari ini pakai sepatu yang kemarin
kena becek.” Kadu diba setibanya di meja makan dan menyendoki nasi goreng
buatan ibunya. Sang ibu dan ayah yang mendengar kaduan anak gadisnya ini hanya
bisa tersenyum, tak ingin membela salah satu diantara kedua anaknya.
Tak lama setelah
diba selesai mengadu zafran datang. “Pasti si Diba udah ngadu kan bu?? Lagian
afan emang kelupaan bu. Afan pikir Diba tau kalau sepatunya afan cuciin. Gak
sengaja sister….” ucap zafran diakhiri dengan senyum dan tampang tak bersalah.
“Minta maaf kek,
apa kek!! Traktir kek, ngasi uang jajan kau sebulan mungkin??!!” kata Diba langsung
disusul oleh gelengen zafran.
“Sepatunya kan
Cuma basah, gak sampai rusak. Gak perlu juga aku ngasi uang jajan sebulan, adik durhaka ,
ih!!”
Diba cemberut.
“Yaudah, maaf
deh, maaf. Ditraktir deh besok, mau apa??”
“Apa aja,
namanya juga ditraktir. Tapi kalau bisa sih, di Papa Ibam ya” seru diba.
“katanya Apa
aja, tapi milih yang mahal, matre!!”
“Niat nraktir
gak sih??” gerutu diba.
“Iya-iya!!!”
Diba melihat jam
dinding, mulai heboh lagi ketika harusnya dia berangkat mencari angkot itu
semenit yang lalu. Diba segera grabak-grubuk, bahkan sempat menabrak meja makan
dan ayahnya yang membaca Koran didepannya. Ulah diba ini setiap hari pasti
terlihat, paniknya diba juga seakan paniknya orang serumah. Diba segera meraih
sepatunya yang tak bertali, mengambil tas , dan mengikat rambutnya acak-acakan.
Tak perduli bagaimana bentuknya, yang penting rambutnya terikat. Sebodo amat
mau cantik atau engga.
Dia keluar
rumah, sudah berjarak 3 meter dari pintu rumahnya baru ia menjerit “IBU, AYAH
PERGI DULU YA!!!!” ini kebiasan diba yang juga tak pernah hilang. Ia pasti
pamit ketika sudah diluar dan tak malu berteriak yang kadang membuat
tetangganya menggerutu.
Sudah merasa
telat, diba segera berlari mencari angkot. Tak perlu waktu lama karena jika
keluar dari gang rumahnya, diba bisa dengan leluasa memilih angkot yang akan
dinaikinya. Mau yang ceper, yang tinggi, yang banyak penumpang, yang sedikir
penumpang, yang di cat rapi, yang cat nya sudah di kopek-kopek, yang kacanya
masih terpasang, atau yang kacanya sudah diisolasi banyak, semua jenis angkot
ada. Diba selalu memilih angkot yang sepi penumpang, karena kalau ramai, dia
pasti keringatan sampai di sekolah.
***
Diba tak
terlambat, bel masuk akan berbunyi 10 menit lagi, ia segera menghampiri uwi,
teman sebangkunya.
“Pagi uwi….”
Sapanya menggoda uwi. Uwi berdecak, ni anak gila tumben nyapa.
“kesambet apa
kau???” kata Uwi terheran-heran. Diba hanya terkikik. Dilihatnya kesekeliling
kelas, semua pada sibuk dengan urusan masing-masing. Matanya berhenti ketika
melihat, ntah untuk keberapa kalinya, Jaslin memandangnya dengan pandangan
begitu sinis dan tajam. Diba menyenggol lengan uwi.
“Wi, kau pernah
mergokin gak, si jaslin kok aneh gitu mandangin aku. Berasa kayak aku anak
durhaka terus ngelakuin dosa besar yang gak bisa diampunin gitu” ujar diba
berbisik pelan. Uwi memandangi jaslin, kali ini jaslin tak memandang diba,
pandangannya sudah tertuju kea rah lain.
“Pernah sih
sekali. Kemarin aku mau langsung nanya, tapi kelupaan di. Inget-inget deh, ada
masalah sama dia ga?? Yang gak disengaja gitu??”
“dih, boro-boro.
Kenal aja juga baru dikelas ini. Masalah apa?? Kau kan tau sendiri, aku tu
kalau baru buat masalah pasti selalu ketauan. Masalah kecil aja aku ketauan kan
sama kau, apalagi masalah besar”
“Tapi, serius
deh!! Dia mandangnya, antara sinis atau mau makan kau!!”
Diba mentoyor
kepala uwi. “kalau ngomong yang bener, orang lagi serius juga”
Uwi terkikik.
“Udah ah, gak usah diladenin. Trus kau nya juga jangan balas mandang tajam,
nanti yang ada kalian bunuh-bunuhan”
“DIBA!!! PINJAM
TIPE-X DONG!!!” suara boim si tukang ribut mengagetkan uwi dan diba yang memang
sedang berbicara pada topic serius. Diba terperanjat, dipandangnya boim dengan
kesal. “GAK USAH PAKAI TERIAK BISA GAK SIH IM!!” ini uwi yang berucap, karena
uwi yang memang lebih kaget disbanding diba. Diba merogoh tasnya dan memberikan
barang yang dipinjam boim.
Kelas masih
tetap riuh, 3 menit lagi bel akan berbunyi.
“JASLIN!!! ASLI
YA ISENG BANGET. KAU FIKIR MEJA AKU TONG SAMPAH APA?? AMBIL GA!!” teriak onik
mengejar jaslin yang berlari keluar kelas, makhluk unik yang duduk sebangku
dengan jaslin. Tiap pagi si onik memang akan berteriak seperti ini, karena
lacinya selalu ditempeli permen karet yang baru dimakan jaslin. Namun jaslin
selalu bertanggung jawab, sepulang sekolah ia selalu mengambil sampah yang
dibuatnya itu.
“Berisik banget
sih nih kelas, aku mau tidur juga gak bisa” keluh ikram ke Boim yang duduk
disampingnya.
“dih, mau tidur
sana dirumah. Kau kesekolah kalau gak ketawa-ketawa ya Cuma tidur. Sekolah itu
emang rumah kedua kram, tapi gak gitu juga. Sekolah itu tempat menuntut ilmu,
tempat kita ngegantungin cita-cita kita, kita ketemu orang-orang berilmu yang
rela ngebagi ilmunya buat kita.” omel Boim sok bijak, ikram mengangkat alis.
Sok bijaknya si boim ini benar-benar membuatnya seakan ingin muntah.
“Chan, si Boim
kesambet, bantuin bacain ayat kursi” ucap ikram menepuk bahu Shinchan yang
duduk didepannya.
“serius kau?? Cepat
ambil air minum, cepat. Biar aku baca-bacain” perintah shincan, seakan-akan
percaya dengan omongan ikram.
Ikram pura-pura
sibuk mencari-cari air putih, segera disambarnya botol minum uwi yang terletak
diatas meja dan diberikannya ke shinchan. “Nih, chan. Cepet, sebelum bel bunyi”
“EH AIR AKU,
IKRAM BALIKIN!!!” jerit uwi ketika sadar botol minumnya di curi ikram.
“bentar wi, kita
harus nyadarin boim dulu, ntar aku beliin deh air segalon untuk kau”
“kau fikir aku
onta harus minum air segalon??!!” omel uwi, tapi tak berusaha merebut air
miliknya.
Tak lama shincan
meminum air yang sudah dibacanya, dan coba ingin menyemburan ke boim, boim
segera mengelak.
“Wei chan, kau
gak bisa bedain apa??!! Si ikram itu bercanda, aku gak kesambet” bela boim pada
dirinya.
“Kram, setannya
kenal dengan aku, kram” ujar shincan masih pura-pura belum paham situasi. Ia
meneguk air yang akan disemburkannya tadi.
“Sembur aja
chan, setannya sok kenal tuh” kompor ikram.
“woi kram, kalau
sampai shinchan nyemburin, kau juga aku sembur balik” ancam boim tak mengaruh,
ikram terkekeh geli.
“cepat chan,
setannya juga kenal sama aku” pinta ikram.
Shincan segera
lagi mengisi mulutnya penuh dengan air untuk menyembur boim, seisi kelas yang
melihat keisengan ikram ini terkekeh heboh, hal ini emang biasa terjadi.
Padahal mereka sekelas baru sebulan lebih, namun seperti sudah akrab sejak
lama.
“Shincan, air
aku habis!!!” uwi segera merebut kembali botol minumnya. Shincan membiarkan
botolnya diambil sang empunya, untuk kali ini shinchan benar-benar menyemburkan
air yang dari mulutnya ke Boim, boim menghindar namun masih saja terciprat.
Bajunya sedikit basah, tawa seisi kelas riuh. Ikram sebagai dalang dari tingkah
shinchan tertawa ngakak.
“parah kau chan,
orang bercanda juga” tutur ikram tak tega melihat boim.
“sorry im, aku
gak haus soalnya. Jadi malas nelan airnya, lebih baik disembur kan??” ucap
shincan tak merasa bersalah, ia kembali duduk dibangkunya. Boim menghampiri shinchan.
“aku balas kau
ya, liat besok” ancam baik dengan ekspresi meringis.
“udah im, si
shincan emang parah tuh” ucap ikram membujuk boim.
“alah, gak usah sok
gak tega, dalangnya itu kau, kampret!!!”
“kok kasar gitu
sih, im” kata ikram memelas dengan ekspresi menjijikan.
“Gak ngaruh, mau
pasang tampang semiris hudri sama ganda juga aku gak bakalan kasihan, bodo amat
lah!!!”
Ganda dan hudri
yang dibawa-bawa boim ternganga. “apa kau bilang im??” Tanya hudri yang duduk
agak jauh dari boim.
“yang mana hud??
Yang ganteng kayak hudri atau ganda??” Tanya boim sok polos. Ikram tersenyum
geli, dikiranya mereka tuli apa. Suara boim yang kayak petasan pasti bisa
didengar jelas oleh seisi kelas.
“alah, gak usah
sok gak tau lah him, mau aku sembur juga??” ancam ganda bercanda.
“aih, sicurut
bawa perasaan banget” boim tertawa.
Isi kelas 11 IPS
2 yang memang kelebihan kaum adam ini memang hanya selalu diisi dengan
keributan, dari pagi sampai pulang sekolah. Bahkan para gurupun selalu
kewalahan menghadapi kelas ajaib ini.
Bel istirahat
yang melengking keras membuat seisi kelas segera berhambur keluar, apalagi para
cowok yang emang sudah kelaparan dari tadi. Baru saja diba akan keluar dari
kelas, tangannya ditahan oleh jaslin, dikasih bonus dengan pandangan sinis
jaslin.
“Ikut aku” ucap
jaslin dengan dingin, diba mengikuti.
“Wi, duluan aja
deh, pergi sama onik atau sama siapa gitu,ya?!!” Pamit diba. Uwi mengangguk, ia
tahu isyarat diba. Diba ingin menyelesaikan masalahnya.
Jaslin menarik
diba dengan kasar dan menghempaskan badan diba didinding pembatas sekolah
belakang WC, tak ada satupun murid yang akan lewat disini.
Diba masih
bungkam, dilihatnya apa sebenarnya maunya jaslin yang memang dari awal selalu
tidak suka memandang diba, dan baru sekarang mau berbicara dengan diba.
“Peringatan ini
berlaku sampai kapanpun, Kalau aku narik kau lagi , kau harus mau ikut. Apapun
yang aku lakukan, semua itu gara-gara kau sendiri. Jangan pernah cerita
kesiapapun!! aku tau kau udah cerita ke uwi soal aku yang gak suka ngeliat kau,
dan itu kesalahan pertama yang kau buat. Jangan terlalu keliatan bahagia, aku
jijik ngeliatnya!!, jangan teriak-teriak dikelas, kelas bukan punya kau”
Lah?!!! Dia kan
juga suka teriak dikelas, protes diba namun tak mau mengutarakan.
“Ngerti?!!”
Tanya jaslin pelan namun dengan tekanan yang tinggi.
Diba menggeleng,
ia memang tak takut, sejak kecil ia selalu berhadapan dengan orang-orang yang
mirip jaslin ini, ia berfikir mungkin wajahnya adalah wajah orang yang mudah
ditindas, diba jadi ingin becermin sekarang juga.
“dari
kalimat-kalimat kau tadi, aku gak nangkap alasan , kenapa kau bisa jijik, dan
bisa gak suka sama aku??? Harusnya ada alasannya, masa iya, tiba-tiba bisa
benci sama orang gitu”
“Yang jelas,
setiap ngeliat muka kau, rasa pengen nonjok aja” jawab jaslin membuat dia
ternganga, jawaban apa ini??!! Ini bukan alasan, masa iya muka aku adalah
sumber masalahnya.
Diba tertawa
“kalau muka aku masalahnya, ya mau gimana lagi, kau belum nyari ya apa
alasannya??!! Yaudah cari dulu gih sana, kalau udah tau apa alasannya, aku baru
mau nurutin semua yang kau pinta tadi, dan itu kalau alasannya bisa diterima
dengan logika.” Jawab diba enteng dan segera melangkah pergi meninggalkan
jaslin, jaslin menarik tangan diba , lagi. Diba tersentak, kali ini tarikan
jaslin lebih kasar.
“Aku gak
main-main. Emang ada alasannya, kalau emang kau mau tau alasannya, ikuti
game-nya sampai akhir” ucap jaslin melepaskan tangannya yang menahan diba. Diba
bungkam.
Jaslin pergi
meninggalkannya.
Diba bukan tak ingin
melawan, tapi dia merasa jaslin itu dekat, ntah pernah kenal atau tidak,
pandangan dinginnya juga tersirat sesuatu, ntahlah. Diba tak bisa menangkap
rasa lain apa di mata jaslin , selain memang kebencian. Diba masih
menerka-nerka kesalahan apa yang pernah dibuatnya sebelumnya, ia benar-benar
ingat setiap rentetan kegiatannya, dan tak ada sedikitpun masalah dengan
jaslin, boro-boro masalah, bicara sama jaslin saja baru tadi.
Sampai rumah,
diba memang masih kepikiran. “Jadi dia
ngajak aku main game gitu??!!” ucap diba coba berfikir lagi. Sudah sejam yang
lalu diba sampai dirumah, namun belum ada satupun atribut sekolah yang terlepas
dari tubuhnya, baju seragam, sepatu dan tas masih benar-benar terpasang ketika
diba menjatuhkan diri diatas tempat tidur dan memikirkan omongan-omongan jaslin
tadi. Bahkan teriakan zafran di depan pintu pun tak didengarnya, ini kelemahan
diba. Jika sudah melamun dan berpikir ia tak akan sadar dengan dunia luar ,
sebelum disadarkan dengan pukulan bantal seperti yang zafran lakukan, diba
tersentak memegangi mukanya. Ia memandang dongkol zafran.
“KAU!!! BISA KAN
MANGGIL BAIK-BAIK, GAK USAH MUKUL PAKAI BANTAL, SAKIT TAU GAK??!!!!” teriak
diba benar-benar kesal.
Zafran
menyeringai. “Udah 30 menit aku manggil kau dengan baik-baik ya di. Udah kayak
orang bego aku nungguin kau ngelamun didepan pintu itu. Lagian kau udah satu
jam sampai rumah tapi belum ganti baju. Lagi ngapain sih??, tu piring dicuci,
ibu udah manggil tu dari tadi”
“Gamau, cuci aja
tu piring sendiri, lagian siapa suruh mukul muka aku pake bantal”
“gausah manja,
kau mau piring-piringnya aku angkatin masuk kekamar kau??”
“coba aja kalau
bisa”
“OKEE!!!” zafran
segera keluar kamar, diba yang sadar omongan abangnya serius itu segera
mengejar zafran keluar tanpa menanggalkan tas yang masih tersandang
dipunggungnya.
“Eh, eh ,
BROTHEERRRR!!!, iya aku cuci.” Jeritnya mengejar zafran yang berjalan beberapa
langkah di depannya. Zafran berhenti mendengar jeritan diba, lalu menyengir
lebar.
“Bagus anak
manis” ucap zafran mengacak-acak rambut diba yang memang sudah berantakan, dan
kembali masuk kekamar.
**
Malam ini, diba
masih saja kepikiran dengan omongan-omongan ngawur si jaslin. Ia melupakan
tugas-tugasnya yang akan dikumpulkan besok. Masih saja sibuk melamun,
mencari-cari apa dia memang salah atau bagaimana.
Jam sudah
menunjukkan pukul 9 Lewat, diba tersadar dari lamunannya setelah mendengar
music favoritnya zafran, dangdut seakan menghantam telinganya, diba segera
bangun dari tempat tidurnya dan mendatangi zafran dikamar yang memang berada
disamping kamarnya.
“HEH, NGIDUPIN
MUSIK JANGAN KERAS-KERAS KENAPA??!!! LAGIAN SUKANYA KOK DANGDUT SIH!!! GANGGU
TAU GAK” Omel diba, zafran memandangnya bingung. Ia sudah menghidupkan music
ini dari 2 jam yang lalu, dan diba baru marah-marah sekarang, kemana aja!!!
“Kau dari mana
di??” Tanya zafran memastikan.
“Gak dari
mana-mana, Cuma dikamar”
“Tidur??”
“Enggak, kenapa
sih??”
“Sakit??”
“Enggak, Kenapa
sih?”
“Aku udah
hidupin nih music sejak 2 jam lalu tau, dan kau baru marah-marah sekarang??!!
Dari tadi kemana aja??!! Aku fikir kau udah mulai suka dangdut, karena gak
datang buat ngomel, tau-tau baru sadar sekarang. Ngelamun kayak siang tadi lagi
kan?? Apa sih yang kau lamunin??”
“Siapa yang
ngelamun, eh, aku ngelamun apa enggak sih tadi, tau ah. Yang jelas, matiin tu
music. Aku mau buat tugas” kalimat terakhir diba membuatnya tersadar memang dia
punya tugas yang terlupakan olehnya.
Diba segera berlari
kekamarnya, menggambil buku tugasnya dengan tergesa-gesa. Tugasnya kali ini
agak banyak, harusnya dia mengerjakan sejak tadi. Hasilnya, ia baru bisa
tertidur jam setengah 1.
Paginya, diba
tidak terbangun walaupun Alarmnya sudah memekakkan telinga dari tadi, hingga
membangunkan zafran dikamar sebelah.
Sudah 15 menit
dari jam biasanya diba bangun, namun tuh anak belum memperlihatkan batang
hidungnya. Alarmnya memang sudah dimatikan ibunya tadi.
“diba mana bu??
Gak sekolah??” Tanya zafran.
“yang dikamar
mandi siapa emangnya?” tanggap ibunya sambil menyiapkan sarapan didapur.
“Ayah.”
“Berarti sidiba
belum bangun, coba abang bangunin dulu diba, ibu fikir waktu alarmnya bunyi
tadi dia udah bangun”
Zafran segera
membuka pintu kamar diba, benar saja diba masih tidur, LELAP!!! Lengkap dengan
dengkurannya.
“WOIIIIII!!!!!
BANGUN GAK KAU, KEBO BANGET SIH. UDAH HAMPIR JAM SETENGAH TUJUH, GAK SEKOLAH
APA??!!!!” Teriak zafran tepat ditelinga diba. Diba menggeliat terbangun.
“Iya, gak usah
teriak-teriak. Biasanya aku juga yang bangunin kau, ini baru bangun cepat
sekali aja udah bangga” ucap diba saat sudah duduk ditempat tidurnya.
“Liat jam deh,
nyadar gak sih ngomong gitu???”
Dia meraih
jamnya, dan segera lompat dari tempat tidur begitu menyadari ia sudah sangat
telat, diba kebingungan, apa yang harus dilakukannya duluan. Segera disambarnya
handuk yang tersangkut dibelakang pintu kamarnya dan menuju kamar mandi, tak
sampai 5 menit diba sudah keluar kamar mandi. Zafran kaget melihat diba yang
mandi super cepat, biasanya paling cepat ya 10 menit.
Diba keluar dari
kamarnya dengan seragam dan tas yang sudah tersandang. Ia mengambil sepatu di
rak-nya. Memasang sepatu sambil melahap nasi goreng ibunya, hal yang tak pernah
bisa dilakukan diba saat pagi adalah menyisir rambutnya dengan baik dan benar.
“Brother,
anterin aku” pinta diba memelas.
Zafran lekas
menggeleng. “kalau aku nganterin kau, aku yang telat. Aku ada ulangan pagi ini”
jawab zafran tanpa menimbang-nimbang keputusannya.
“Gak sempat lagi
nyari oplet yang sepi kalau jam segini, ibu….” Kadunya masih dengan tampang
memelas.
“yang gak ada
kan Cuma oplet yang sepi, kalau oplet yang rame mah masih ada kan??” Tanya sang
ayah juga tak perduli dengan tampang memelas diba.
“iya sih yah,
tapi kalau diba pergi naik oplet yang isinya penuh, diba pasti gelantungan di
pintu. Ayah mau diba gelantungan di pintu??? Diba ini anak gadis ayah loh,
kalau jatuh gimana?? Ayah tega??”
“iya gak
apa-apa. Asal kamu sampai kesekolah” ucap ayahnya enteng, diba kehabisan alasan.
Kali ini dia benar-benar harus dempet-dempetan di oplet.
Setelah memasang
sepatunya, diba segera pergi dengan cemberut.
“kalau nanti
jadi gelantungan di pintu, ceritain ke ayah ya gimana rasanya” ucap ayahnya
saat diba akan keluar rumah. Diba memandang ayahnya dengan cemberut. “ini ayah
durhaka banget” desisnya.
Segera sambil
berjalan, diikatnya rambutnya dengan sekenanya, yang penting terikat. Dengan
ancang-ancang yang pasti, segera diba berlari kencang untuk keluar gang dan
kearah jalan besar untuk mencari angkot. Tak perlu waktu lama, diba sudah
dengan cepat dapat angkot, walaupun dirinya harus rela pagi-pagi begini harus
mandi dengan peluh.
2 Menit lagi
pagar akan tutup, diba baru turun dari angkot, ia segera berlari sebelum pagar
ditutup. Masih satu menit lagi, tapi bel masuk sudah berbunyi, dia memandang
jam tangannya. “Berarti jam aku lambat semenit” ucapnya ketika sudah berhasil
masuk kesekolah tanpa harus menunggu diluar pagar. Sesaat setelah dirinya
masuk, pagar tertutup. Diba memandangi orang-orang yang terlambar, yang sudah
susah payah lari namun akhirnya tetap aja harus menunggu diluar dulu, diba
terkikik. Di usapnya peluh yang menetes di dahinya, segera ia berlari lagi kea
rah kelas, karena pagi ini yang mengajar adalah pak Zul, guru bahasa inggris
yang masuk kelas bahkan sebelum berl berbunyi, diba sudah menduga bahwa pak zul
pati sudah berada didalam kelas. Ia sampai didepan pintu kelasnya dengan napas
tersenggal-senggal. Di intipnya isi kelas, memang benar pak zul sudah masuk.
Diba memandangi seisi kelas, seisi kelas sadar akan keberadaan diba diluar
kelas yang kebingungan, dalam sekejab diba sempat memandang raut dingin jaslin,
namun langsung beraih memandangi uwi dengan tampang memelas. uwi juga
memandanginya dengan memelas, diba bertanya apakah boleh masuk atau tidak hanya
dengan isyarat mata. Uwi mengangguk, namun ragu. Diba memandangi boim yang
malah tertawa-tawa. Tak lama ikram segera berdiri dan menghampiri pak zul, diba
segera masuk, karena ikram menghalangi pandangan pak zul dari hal apapun, ia
mengelus dada setelah berhasil duduk dengan selamat.
“Mandi keringat
di??” Tanya uwi begitu diba sampai ditempat duduk dengan peluh yang membasahi
poninya dan sebagian rambutnya, diba mengangguk.
“eh kram, ni buku
kau” Teriak shincan. Ikram yang masih berbicara dengan pak zul didepan segera
memandang.
“oh, itu buku
saya pak. Saya gak jadi beli lagi deh pak” ucapnya tersenyum dan balik lagi
ketempat duduknya, diba memandangi ikram.
“Main kali modus
kaaaauuu!!!” seru boim pelan, namun bisa dipastikan seisi kelas mendengar.
“seeeehhhh, tapi
si diba kayaknya biasa aja tuh kram” ucap Igo teman sebangku shincan.
“apaan sih, aku
emang mau beli buku lagi” ikram beralasan, yang jelas teman-temannya tak
percaya.
“Dari tadi buku
kau ada diatas meja kram, ngaku aja!!!” ucap boim.
ikram memandangi
boim, “kau ngomong kalau gak kayak petasan gak bisa apa im??? Sadar gak suara
kau itu kedengaran sampai kelas ujung.” Ucap ikram bercanda. Boim menyeringai.
“GAK BISA” jawab boim enteng tanpa memperdulikan ekspresi ikram yang dongkol. Ikram
tak lagi meladeni boim yang kalau diikuti terus kemauannya bakalan panjang. Tak
lama setelah debat mereka, terdengar suara diba ditengah-tengah kelas yang akan
memulai pelajaran “Makasih yak ram” seru diba memandang ikram.
Ikram memandang
cuek, dan mengangkat alis kearah sumber suara. Diba ternganga, kalimat
lembutnya tak diacuhkan ikram, luar biasa.
“Dih, aku
dicuekin wi” ucap diba menyenggol lengan uwi. Uwi terkekeh geli, kasihan dengan
sahabatnya yang harus menanggung malu.
Boim Cs yang
duduk dibelakang juga melihat kelakuan ikram yang pura-pura cuek, mereka tahu
jelas bahwa ikram hanya pura-pura cuek mendengar cewek yang dilindunginya
mengucapkan terima kasih dengan tampang begitu sumringah. Selama ini, ikram
memang jarang sekali berbicara dengan diba, tidak seperti boim dan yang lainnya
yang sebentar-bentar memanggil diba.
Berbeda dengan ikram yang selalu tertawa ngakak dengan uwi, onik, dan
para cewek ganjen yang duduk dibagian depan, namun tidak dengan diba. Ikram
memang cowok dingin kalau didepan diba, namun diam-diam menyimpan benteng yang
kokok untuk melindungi diba. Ya, dia menyukai diba, tak perduli bagaimana
akhirnya nanti. Ntah akan bersama atau tidak, yang jelas sekarang ikram hanya
mau melindungi dan menjadi bahu tempat diba bersandar.
Menurut ikram, Diba
cewek yang sederhana dengan tampilan paling berantakan diantara semua cewek
dikelasnya, dengan ikatan rambut seadanya, bahkan kadang diba mengikat
rambutnya dengan karet cabe, datang dengan sepatu yang kadang terkena becek dan
masuk kekelas tanpa perduli murid-murid yang baru siap menyapu mengomel-omel
karena diba yang baru datang harus mengotori lantai kelas lagi, dengan cengiran
khasnya diba selalu meminta maaf, walaupun tidak dimaafkan. yang gak tau malu
kalau udah gabung bareng boim cs. Yang selalu minta dijajani sama
teman-temannya yang baru saja berulang tahun, tanpa malu dia mengekor sampai
kantin, memesan makanan dan pergi dengan teriakan “BUK, YANG BAYARIN INI YA ORANGNYA!!!”
mau gak mau yang berulang tahun harus bayarin karena diba sudah berteriak dan
membuat seisi kantin memandangnya. Diba juga cewek yang memiliki ekspresi
dongkol paling manis, menurut ikram. Menurut yang lainnya mah, gak ada
manis-manisnya. Diba selalu memasang wajah cemberut dan melempari barang
didekatnya jika ada yang memanggilnya “Iis Dahlia” karena diba memang punya
kumis tipis dibibirnya. Tak jarang juga dia dipanggil “SIkumis” oleh boim cs. Bahkan,
jika tak ada barang didekatnya, ia hamper melemparkan uwi yang duduk
disampingnya. Ikram tau, bahwa diba tak menyukai warna apapun, berbeda dengan
uwi yang sangat menggilai warna ungu. Diba juga tak malu jika harus mencomot
bekal anak-anak cewek, tanpa malu dia berkata “Minta ya, enak nih kayaknya”.
**