Sabtu, 15 April 2017

PENGUKIR LANGIT

1
“BROTHEEERRRR…..!!!! sepatu kets aku mana?? Kemarin kau pakai kan?? Kaus kaki juga mana??” teriak diba pagi-pagi saat buru-buru akan berangkat kesekolah. Keributan seperti ini memang jadi rutinitas dirumah sederhana ini.
“lah, kemarin aku cuciin, terus jemur di genteng, emang belum kau angkat sis??” jawab zafran dari dalam kamarnya.
Diba mendatangi kamar zafran. “kau nyuci , trus kau gak ngangkatin?? Terus itu sepatu dibiarin gitu aja di genteng??? Sadar minjam gak sih ha?? Pagi-pagi bikin kesel aja!!!” rutuk diba lalu berlari kearah genteng belakang rumahnya, dan mendapati sepatunya masih lembab karena malam tadi kan memang hujan.
Ia mendengus kesal, masuk kerumah dalam keadaan dongkol.
“Bu, afan tuh pagi-pagi bikin kesel, masa udah minjam sepatu diba trus pas udah dicuci gak diangkatin?? Diba kan gak tau kalau afan nyuciin sepatunya. Malam tadi kan juga hujan, sepatunya masih basah bu. Terpaksa hari ini pakai sepatu yang kemarin kena becek.” Kadu diba setibanya di meja makan dan menyendoki nasi goreng buatan ibunya. Sang ibu dan ayah yang mendengar kaduan anak gadisnya ini hanya bisa tersenyum, tak ingin membela salah satu diantara kedua anaknya.
Tak lama setelah diba selesai mengadu zafran datang. “Pasti si Diba udah ngadu kan bu?? Lagian afan emang kelupaan bu. Afan pikir Diba tau kalau sepatunya afan cuciin. Gak sengaja sister….” ucap zafran diakhiri dengan senyum dan tampang tak bersalah.
“Minta maaf kek, apa kek!! Traktir kek, ngasi uang jajan kau sebulan mungkin??!!” kata Diba langsung disusul oleh gelengen zafran.
“Sepatunya kan Cuma basah, gak sampai rusak. Gak perlu juga aku  ngasi uang jajan sebulan, adik durhaka , ih!!”
Diba cemberut.
“Yaudah, maaf deh, maaf. Ditraktir deh besok, mau apa??”
“Apa aja, namanya juga ditraktir. Tapi kalau bisa sih, di Papa Ibam ya” seru diba.
“katanya Apa aja, tapi milih yang mahal, matre!!”
“Niat nraktir gak sih??” gerutu diba.
“Iya-iya!!!”
Diba melihat jam dinding, mulai heboh lagi ketika harusnya dia berangkat mencari angkot itu semenit yang lalu. Diba segera grabak-grubuk, bahkan sempat menabrak meja makan dan ayahnya yang membaca Koran didepannya. Ulah diba ini setiap hari pasti terlihat, paniknya diba juga seakan paniknya orang serumah. Diba segera meraih sepatunya yang tak bertali, mengambil tas , dan mengikat rambutnya acak-acakan. Tak perduli bagaimana bentuknya, yang penting rambutnya terikat. Sebodo amat mau cantik atau engga.
Dia keluar rumah, sudah berjarak 3 meter dari pintu rumahnya baru ia menjerit “IBU, AYAH PERGI DULU YA!!!!” ini kebiasan diba yang juga tak pernah hilang. Ia pasti pamit ketika sudah diluar dan tak malu berteriak yang kadang membuat tetangganya menggerutu.
Sudah merasa telat, diba segera berlari mencari angkot. Tak perlu waktu lama karena jika keluar dari gang rumahnya, diba bisa dengan leluasa memilih angkot yang akan dinaikinya. Mau yang ceper, yang tinggi, yang banyak penumpang, yang sedikir penumpang, yang di cat rapi, yang cat nya sudah di kopek-kopek, yang kacanya masih terpasang, atau yang kacanya sudah diisolasi banyak, semua jenis angkot ada. Diba selalu memilih angkot yang sepi penumpang, karena kalau ramai, dia pasti keringatan sampai di sekolah.
***
Diba tak terlambat, bel masuk akan berbunyi 10 menit lagi, ia segera menghampiri uwi, teman sebangkunya.
“Pagi uwi….” Sapanya menggoda uwi. Uwi berdecak, ni anak gila tumben nyapa.
“kesambet apa kau???” kata Uwi terheran-heran. Diba hanya terkikik. Dilihatnya kesekeliling kelas, semua pada sibuk dengan urusan masing-masing. Matanya berhenti ketika melihat, ntah untuk keberapa kalinya, Jaslin memandangnya dengan pandangan begitu sinis dan tajam. Diba menyenggol lengan uwi.
“Wi, kau pernah mergokin gak, si jaslin kok aneh gitu mandangin aku. Berasa kayak aku anak durhaka terus ngelakuin dosa besar yang gak bisa diampunin gitu” ujar diba berbisik pelan. Uwi memandangi jaslin, kali ini jaslin tak memandang diba, pandangannya sudah tertuju kea rah lain.
“Pernah sih sekali. Kemarin aku mau langsung nanya, tapi kelupaan di. Inget-inget deh, ada masalah sama dia ga?? Yang gak disengaja gitu??”
“dih, boro-boro. Kenal aja juga baru dikelas ini. Masalah apa?? Kau kan tau sendiri, aku tu kalau baru buat masalah pasti selalu ketauan. Masalah kecil aja aku ketauan kan sama kau, apalagi masalah besar”
“Tapi, serius deh!! Dia mandangnya, antara sinis atau mau makan kau!!”
Diba mentoyor kepala uwi. “kalau ngomong yang bener, orang lagi serius juga”
Uwi terkikik. “Udah ah, gak usah diladenin. Trus kau nya juga jangan balas mandang tajam, nanti yang ada kalian bunuh-bunuhan”
“DIBA!!! PINJAM TIPE-X DONG!!!” suara boim si tukang ribut mengagetkan uwi dan diba yang memang sedang berbicara pada topic serius. Diba terperanjat, dipandangnya boim dengan kesal. “GAK USAH PAKAI TERIAK BISA GAK SIH IM!!” ini uwi yang berucap, karena uwi yang memang lebih kaget disbanding diba. Diba merogoh tasnya dan memberikan barang yang dipinjam boim.
Kelas masih tetap riuh, 3 menit lagi bel akan berbunyi.
“JASLIN!!! ASLI YA ISENG BANGET. KAU FIKIR MEJA AKU TONG SAMPAH APA?? AMBIL GA!!” teriak onik mengejar jaslin yang berlari keluar kelas, makhluk unik yang duduk sebangku dengan jaslin. Tiap pagi si onik memang akan berteriak seperti ini, karena lacinya selalu ditempeli permen karet yang baru dimakan jaslin. Namun jaslin selalu bertanggung jawab, sepulang sekolah ia selalu mengambil sampah yang dibuatnya itu.
“Berisik banget sih nih kelas, aku mau tidur juga gak bisa” keluh ikram ke Boim yang duduk disampingnya.
“dih, mau tidur sana dirumah. Kau kesekolah kalau gak ketawa-ketawa ya Cuma tidur. Sekolah itu emang rumah kedua kram, tapi gak gitu juga. Sekolah itu tempat menuntut ilmu, tempat kita ngegantungin cita-cita kita, kita ketemu orang-orang berilmu yang rela ngebagi ilmunya buat kita.” omel Boim sok bijak, ikram mengangkat alis. Sok bijaknya si boim ini benar-benar membuatnya seakan ingin muntah.
“Chan, si Boim kesambet, bantuin bacain ayat kursi” ucap ikram menepuk bahu Shinchan yang duduk didepannya.
“serius kau?? Cepat ambil air minum, cepat. Biar aku baca-bacain” perintah shincan, seakan-akan percaya dengan omongan ikram.
Ikram pura-pura sibuk mencari-cari air putih, segera disambarnya botol minum uwi yang terletak diatas meja dan diberikannya ke shinchan. “Nih, chan. Cepet, sebelum bel bunyi”
“EH AIR AKU, IKRAM BALIKIN!!!” jerit uwi ketika sadar botol minumnya di curi ikram.
“bentar wi, kita harus nyadarin boim dulu, ntar aku beliin deh air segalon untuk kau”
“kau fikir aku onta harus minum air segalon??!!” omel uwi, tapi tak berusaha merebut air miliknya.
Tak lama shincan meminum air yang sudah dibacanya, dan coba ingin menyemburan ke boim, boim segera mengelak.
“Wei chan, kau gak bisa bedain apa??!! Si ikram itu bercanda, aku gak kesambet” bela boim pada dirinya.
“Kram, setannya kenal dengan aku, kram” ujar shincan masih pura-pura belum paham situasi. Ia meneguk air yang akan disemburkannya tadi.
“Sembur aja chan, setannya sok kenal tuh” kompor ikram.
“woi kram, kalau sampai shinchan nyemburin, kau juga aku sembur balik” ancam boim tak mengaruh, ikram terkekeh geli.
“cepat chan, setannya juga kenal sama aku” pinta ikram.
Shincan segera lagi mengisi mulutnya penuh dengan air untuk menyembur boim, seisi kelas yang melihat keisengan ikram ini terkekeh heboh, hal ini emang biasa terjadi. Padahal mereka sekelas baru sebulan lebih, namun seperti sudah akrab sejak lama.
“Shincan, air aku habis!!!” uwi segera merebut kembali botol minumnya. Shincan membiarkan botolnya diambil sang empunya, untuk kali ini shinchan benar-benar menyemburkan air yang dari mulutnya ke Boim, boim menghindar namun masih saja terciprat. Bajunya sedikit basah, tawa seisi kelas riuh. Ikram sebagai dalang dari tingkah shinchan tertawa ngakak.
“parah kau chan, orang bercanda juga” tutur ikram tak tega melihat boim.
“sorry im, aku gak haus soalnya. Jadi malas nelan airnya, lebih baik disembur kan??” ucap shincan tak merasa bersalah, ia kembali duduk dibangkunya. Boim menghampiri shinchan.
“aku balas kau ya, liat besok” ancam baik dengan ekspresi meringis.
“udah im, si shincan emang parah tuh” ucap ikram membujuk boim.
“alah, gak usah sok gak tega, dalangnya itu kau, kampret!!!”
“kok kasar gitu sih, im” kata ikram memelas dengan ekspresi menjijikan.
“Gak ngaruh, mau pasang tampang semiris hudri sama ganda juga aku gak bakalan kasihan, bodo amat lah!!!”
Ganda dan hudri yang dibawa-bawa boim ternganga. “apa kau bilang im??” Tanya hudri yang duduk agak jauh dari boim.
“yang mana hud?? Yang ganteng kayak hudri atau ganda??” Tanya boim sok polos. Ikram tersenyum geli, dikiranya mereka tuli apa. Suara boim yang kayak petasan pasti bisa didengar jelas oleh seisi kelas.
“alah, gak usah sok gak tau lah him, mau aku sembur juga??” ancam ganda bercanda.
“aih, sicurut bawa perasaan banget” boim tertawa.
Isi kelas 11 IPS 2 yang memang kelebihan kaum adam ini memang hanya selalu diisi dengan keributan, dari pagi sampai pulang sekolah. Bahkan para gurupun selalu kewalahan menghadapi kelas ajaib ini.
Bel istirahat yang melengking keras membuat seisi kelas segera berhambur keluar, apalagi para cowok yang emang sudah kelaparan dari tadi. Baru saja diba akan keluar dari kelas, tangannya ditahan oleh jaslin, dikasih bonus dengan pandangan sinis jaslin.
“Ikut aku” ucap jaslin dengan dingin, diba mengikuti.
“Wi, duluan aja deh, pergi sama onik atau sama siapa gitu,ya?!!” Pamit diba. Uwi mengangguk, ia tahu isyarat diba. Diba ingin menyelesaikan masalahnya.
Jaslin menarik diba dengan kasar dan menghempaskan badan diba didinding pembatas sekolah belakang WC, tak ada satupun murid yang akan lewat disini.
Diba masih bungkam, dilihatnya apa sebenarnya maunya jaslin yang memang dari awal selalu tidak suka memandang diba, dan baru sekarang mau berbicara dengan diba.
“Peringatan ini berlaku sampai kapanpun, Kalau aku narik kau lagi , kau harus mau ikut. Apapun yang aku lakukan, semua itu gara-gara kau sendiri. Jangan pernah cerita kesiapapun!! aku tau kau udah cerita ke uwi soal aku yang gak suka ngeliat kau, dan itu kesalahan pertama yang kau buat. Jangan terlalu keliatan bahagia, aku jijik ngeliatnya!!, jangan teriak-teriak dikelas, kelas bukan punya kau”
Lah?!!! Dia kan juga suka teriak dikelas, protes diba namun tak mau mengutarakan.
“Ngerti?!!” Tanya jaslin pelan namun dengan tekanan yang tinggi.
Diba menggeleng, ia memang tak takut, sejak kecil ia selalu berhadapan dengan orang-orang yang mirip jaslin ini, ia berfikir mungkin wajahnya adalah wajah orang yang mudah ditindas, diba jadi ingin becermin sekarang juga.
“dari kalimat-kalimat kau tadi, aku gak nangkap alasan , kenapa kau bisa jijik, dan bisa gak suka sama aku??? Harusnya ada alasannya, masa iya, tiba-tiba bisa benci sama orang gitu”
“Yang jelas, setiap ngeliat muka kau, rasa pengen nonjok aja” jawab jaslin membuat dia ternganga, jawaban apa ini??!! Ini bukan alasan, masa iya muka aku adalah sumber masalahnya.
Diba tertawa “kalau muka aku masalahnya, ya mau gimana lagi, kau belum nyari ya apa alasannya??!! Yaudah cari dulu gih sana, kalau udah tau apa alasannya, aku baru mau nurutin semua yang kau pinta tadi, dan itu kalau alasannya bisa diterima dengan logika.” Jawab diba enteng dan segera melangkah pergi meninggalkan jaslin, jaslin menarik tangan diba , lagi. Diba tersentak, kali ini tarikan jaslin lebih kasar.
“Aku gak main-main. Emang ada alasannya, kalau emang kau mau tau alasannya, ikuti game-nya sampai akhir” ucap jaslin melepaskan tangannya yang menahan diba. Diba bungkam.
Jaslin pergi meninggalkannya.
Diba bukan tak ingin melawan, tapi dia merasa jaslin itu dekat, ntah pernah kenal atau tidak, pandangan dinginnya juga tersirat sesuatu, ntahlah. Diba tak bisa menangkap rasa lain apa di mata jaslin , selain memang kebencian. Diba masih menerka-nerka kesalahan apa yang pernah dibuatnya sebelumnya, ia benar-benar ingat setiap rentetan kegiatannya, dan tak ada sedikitpun masalah dengan jaslin, boro-boro masalah, bicara sama jaslin saja baru tadi.
Sampai rumah, diba memang masih kepikiran. “Jadi  dia ngajak aku main game gitu??!!” ucap diba coba berfikir lagi. Sudah sejam yang lalu diba sampai dirumah, namun belum ada satupun atribut sekolah yang terlepas dari tubuhnya, baju seragam, sepatu dan tas masih benar-benar terpasang ketika diba menjatuhkan diri diatas tempat tidur dan memikirkan omongan-omongan jaslin tadi. Bahkan teriakan zafran di depan pintu pun tak didengarnya, ini kelemahan diba. Jika sudah melamun dan berpikir ia tak akan sadar dengan dunia luar , sebelum disadarkan dengan pukulan bantal seperti yang zafran lakukan, diba tersentak memegangi mukanya. Ia memandang dongkol zafran.
“KAU!!! BISA KAN MANGGIL BAIK-BAIK, GAK USAH MUKUL PAKAI BANTAL, SAKIT TAU GAK??!!!!” teriak diba benar-benar kesal.
Zafran menyeringai. “Udah 30 menit aku manggil kau dengan baik-baik ya di. Udah kayak orang bego aku nungguin kau ngelamun didepan pintu itu. Lagian kau udah satu jam sampai rumah tapi belum ganti baju. Lagi ngapain sih??, tu piring dicuci, ibu udah manggil tu dari tadi”
“Gamau, cuci aja tu piring sendiri, lagian siapa suruh mukul muka aku pake bantal”
“gausah manja, kau mau piring-piringnya aku angkatin masuk kekamar kau??”
“coba aja kalau bisa”
“OKEE!!!” zafran segera keluar kamar, diba yang sadar omongan abangnya serius itu segera mengejar zafran keluar tanpa menanggalkan tas yang masih tersandang dipunggungnya.
“Eh, eh , BROTHEERRRR!!!, iya aku cuci.” Jeritnya mengejar zafran yang berjalan beberapa langkah di depannya. Zafran berhenti mendengar jeritan diba, lalu menyengir lebar.
“Bagus anak manis” ucap zafran mengacak-acak rambut diba yang memang sudah berantakan, dan kembali masuk kekamar.
**
Malam ini, diba masih saja kepikiran dengan omongan-omongan ngawur si jaslin. Ia melupakan tugas-tugasnya yang akan dikumpulkan besok. Masih saja sibuk melamun, mencari-cari apa dia memang salah atau bagaimana.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 Lewat, diba tersadar dari lamunannya setelah mendengar music favoritnya zafran, dangdut seakan menghantam telinganya, diba segera bangun dari tempat tidurnya dan mendatangi zafran dikamar yang memang berada disamping kamarnya.
“HEH, NGIDUPIN MUSIK JANGAN KERAS-KERAS KENAPA??!!! LAGIAN SUKANYA KOK DANGDUT SIH!!! GANGGU TAU GAK” Omel diba, zafran memandangnya bingung. Ia sudah menghidupkan music ini dari 2 jam yang lalu, dan diba baru marah-marah sekarang, kemana aja!!!
“Kau dari mana di??” Tanya zafran memastikan.
“Gak dari mana-mana, Cuma dikamar”
“Tidur??”
“Enggak, kenapa sih??”
“Sakit??”
“Enggak, Kenapa sih?”
“Aku udah hidupin nih music sejak 2 jam lalu tau, dan kau baru marah-marah sekarang??!! Dari tadi kemana aja??!! Aku fikir kau udah mulai suka dangdut, karena gak datang buat ngomel, tau-tau baru sadar sekarang. Ngelamun kayak siang tadi lagi kan?? Apa sih yang kau lamunin??”
“Siapa yang ngelamun, eh, aku ngelamun apa enggak sih tadi, tau ah. Yang jelas, matiin tu music. Aku mau buat tugas” kalimat terakhir diba membuatnya tersadar memang dia punya tugas yang terlupakan olehnya.
Diba segera berlari kekamarnya, menggambil buku tugasnya dengan tergesa-gesa. Tugasnya kali ini agak banyak, harusnya dia mengerjakan sejak tadi. Hasilnya, ia baru bisa tertidur jam setengah 1.
Paginya, diba tidak terbangun walaupun Alarmnya sudah memekakkan telinga dari tadi, hingga membangunkan zafran dikamar sebelah.
Sudah 15 menit dari jam biasanya diba bangun, namun tuh anak belum memperlihatkan batang hidungnya. Alarmnya memang sudah dimatikan ibunya tadi.
“diba mana bu?? Gak sekolah??” Tanya zafran.
“yang dikamar mandi siapa emangnya?” tanggap ibunya sambil menyiapkan sarapan didapur.
“Ayah.”
“Berarti sidiba belum bangun, coba abang bangunin dulu diba, ibu fikir waktu alarmnya bunyi tadi dia udah bangun”
Zafran segera membuka pintu kamar diba, benar saja diba masih tidur, LELAP!!! Lengkap dengan dengkurannya.
“WOIIIIII!!!!! BANGUN GAK KAU, KEBO BANGET SIH. UDAH HAMPIR JAM SETENGAH TUJUH, GAK SEKOLAH APA??!!!!” Teriak zafran tepat ditelinga diba. Diba menggeliat terbangun.
“Iya, gak usah teriak-teriak. Biasanya aku juga yang bangunin kau, ini baru bangun cepat sekali aja udah bangga” ucap diba saat sudah duduk ditempat tidurnya.
“Liat jam deh, nyadar gak sih ngomong gitu???”
Dia meraih jamnya, dan segera lompat dari tempat tidur begitu menyadari ia sudah sangat telat, diba kebingungan, apa yang harus dilakukannya duluan. Segera disambarnya handuk yang tersangkut dibelakang pintu kamarnya dan menuju kamar mandi, tak sampai 5 menit diba sudah keluar kamar mandi. Zafran kaget melihat diba yang mandi super cepat, biasanya paling cepat ya 10 menit.
Diba keluar dari kamarnya dengan seragam dan tas yang sudah tersandang. Ia mengambil sepatu di rak-nya. Memasang sepatu sambil melahap nasi goreng ibunya, hal yang tak pernah bisa dilakukan diba saat pagi adalah menyisir rambutnya dengan baik dan benar.
“Brother, anterin aku” pinta diba memelas.
Zafran lekas menggeleng. “kalau aku nganterin kau, aku yang telat. Aku ada ulangan pagi ini” jawab zafran tanpa menimbang-nimbang keputusannya.
“Gak sempat lagi nyari oplet yang sepi kalau jam segini, ibu….” Kadunya masih dengan tampang memelas.
“yang gak ada kan Cuma oplet yang sepi, kalau oplet yang rame mah masih ada kan??” Tanya sang ayah juga tak perduli dengan tampang memelas diba.
“iya sih yah, tapi kalau diba pergi naik oplet yang isinya penuh, diba pasti gelantungan di pintu. Ayah mau diba gelantungan di pintu??? Diba ini anak gadis ayah loh, kalau jatuh gimana?? Ayah tega??”
“iya gak apa-apa. Asal kamu sampai kesekolah” ucap ayahnya enteng, diba kehabisan alasan. Kali ini dia benar-benar harus dempet-dempetan di oplet.
Setelah memasang sepatunya, diba segera pergi dengan cemberut.
“kalau nanti jadi gelantungan di pintu, ceritain ke ayah ya gimana rasanya” ucap ayahnya saat diba akan keluar rumah. Diba memandang ayahnya dengan cemberut. “ini ayah durhaka banget” desisnya.
Segera sambil berjalan, diikatnya rambutnya dengan sekenanya, yang penting terikat. Dengan ancang-ancang yang pasti, segera diba berlari kencang untuk keluar gang dan kearah jalan besar untuk mencari angkot. Tak perlu waktu lama, diba sudah dengan cepat dapat angkot, walaupun dirinya harus rela pagi-pagi begini harus mandi dengan peluh.
2 Menit lagi pagar akan tutup, diba baru turun dari angkot, ia segera berlari sebelum pagar ditutup. Masih satu menit lagi, tapi bel masuk sudah berbunyi, dia memandang jam tangannya. “Berarti jam aku lambat semenit” ucapnya ketika sudah berhasil masuk kesekolah tanpa harus menunggu diluar pagar. Sesaat setelah dirinya masuk, pagar tertutup. Diba memandangi orang-orang yang terlambar, yang sudah susah payah lari namun akhirnya tetap aja harus menunggu diluar dulu, diba terkikik. Di usapnya peluh yang menetes di dahinya, segera ia berlari lagi kea rah kelas, karena pagi ini yang mengajar adalah pak Zul, guru bahasa inggris yang masuk kelas bahkan sebelum berl berbunyi, diba sudah menduga bahwa pak zul pati sudah berada didalam kelas. Ia sampai didepan pintu kelasnya dengan napas tersenggal-senggal. Di intipnya isi kelas, memang benar pak zul sudah masuk. Diba memandangi seisi kelas, seisi kelas sadar akan keberadaan diba diluar kelas yang kebingungan, dalam sekejab diba sempat memandang raut dingin jaslin, namun langsung beraih memandangi uwi dengan tampang memelas. uwi juga memandanginya dengan memelas, diba bertanya apakah boleh masuk atau tidak hanya dengan isyarat mata. Uwi mengangguk, namun ragu. Diba memandangi boim yang malah tertawa-tawa. Tak lama ikram segera berdiri dan menghampiri pak zul, diba segera masuk, karena ikram menghalangi pandangan pak zul dari hal apapun, ia mengelus dada setelah berhasil duduk dengan selamat.
“Mandi keringat di??” Tanya uwi begitu diba sampai ditempat duduk dengan peluh yang membasahi poninya dan sebagian rambutnya, diba mengangguk.
“eh kram, ni buku kau” Teriak shincan. Ikram yang masih berbicara dengan pak zul didepan segera memandang.
“oh, itu buku saya pak. Saya gak jadi beli lagi deh pak” ucapnya tersenyum dan balik lagi ketempat duduknya, diba memandangi ikram.
“Main kali modus kaaaauuu!!!” seru boim pelan, namun bisa dipastikan seisi kelas mendengar.
“seeeehhhh, tapi si diba kayaknya biasa aja tuh kram” ucap Igo teman sebangku shincan.
“apaan sih, aku emang mau beli buku lagi” ikram beralasan, yang jelas teman-temannya tak percaya.
“Dari tadi buku kau ada diatas meja kram, ngaku aja!!!” ucap boim.
ikram memandangi boim, “kau ngomong kalau gak kayak petasan gak bisa apa im??? Sadar gak suara kau itu kedengaran sampai kelas ujung.” Ucap ikram bercanda. Boim menyeringai. “GAK BISA” jawab boim enteng tanpa memperdulikan ekspresi ikram yang dongkol. Ikram tak lagi meladeni boim yang kalau diikuti terus kemauannya bakalan panjang. Tak lama setelah debat mereka, terdengar suara diba ditengah-tengah kelas yang akan memulai pelajaran “Makasih yak ram” seru diba memandang ikram.
Ikram memandang cuek, dan mengangkat alis kearah sumber suara. Diba ternganga, kalimat lembutnya tak diacuhkan ikram, luar biasa.
“Dih, aku dicuekin wi” ucap diba menyenggol lengan uwi. Uwi terkekeh geli, kasihan dengan sahabatnya yang harus menanggung malu.
Boim Cs yang duduk dibelakang juga melihat kelakuan ikram yang pura-pura cuek, mereka tahu jelas bahwa ikram hanya pura-pura cuek mendengar cewek yang dilindunginya mengucapkan terima kasih dengan tampang begitu sumringah. Selama ini, ikram memang jarang sekali berbicara dengan diba, tidak seperti boim dan yang lainnya yang sebentar-bentar memanggil diba.  Berbeda dengan ikram yang selalu tertawa ngakak dengan uwi, onik, dan para cewek ganjen yang duduk dibagian depan, namun tidak dengan diba. Ikram memang cowok dingin kalau didepan diba, namun diam-diam menyimpan benteng yang kokok untuk melindungi diba. Ya, dia menyukai diba, tak perduli bagaimana akhirnya nanti. Ntah akan bersama atau tidak, yang jelas sekarang ikram hanya mau melindungi dan menjadi bahu tempat diba bersandar.
Menurut ikram, Diba cewek yang sederhana dengan tampilan paling berantakan diantara semua cewek dikelasnya, dengan ikatan rambut seadanya, bahkan kadang diba mengikat rambutnya dengan karet cabe, datang dengan sepatu yang kadang terkena becek dan masuk kekelas tanpa perduli murid-murid yang baru siap menyapu mengomel-omel karena diba yang baru datang harus mengotori lantai kelas lagi, dengan cengiran khasnya diba selalu meminta maaf, walaupun tidak dimaafkan. yang gak tau malu kalau udah gabung bareng boim cs. Yang selalu minta dijajani sama teman-temannya yang baru saja berulang tahun, tanpa malu dia mengekor sampai kantin, memesan makanan dan pergi dengan teriakan “BUK, YANG BAYARIN INI YA ORANGNYA!!!” mau gak mau yang berulang tahun harus bayarin karena diba sudah berteriak dan membuat seisi kantin memandangnya. Diba juga cewek yang memiliki ekspresi dongkol paling manis, menurut ikram. Menurut yang lainnya mah, gak ada manis-manisnya. Diba selalu memasang wajah cemberut dan melempari barang didekatnya jika ada yang memanggilnya “Iis Dahlia” karena diba memang punya kumis tipis dibibirnya. Tak jarang juga dia dipanggil “SIkumis” oleh boim cs. Bahkan, jika tak ada barang didekatnya, ia hamper melemparkan uwi yang duduk disampingnya. Ikram tau, bahwa diba tak menyukai warna apapun, berbeda dengan uwi yang sangat menggilai warna ungu. Diba juga tak malu jika harus mencomot bekal anak-anak cewek, tanpa malu dia berkata “Minta ya, enak nih kayaknya”.

**   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar